Delapan hari tanpamu akhirnya bisa aku lewati. Ternyata,
berminggu-minggu tidak bertemu denganmu tidak membuat aku mati. Aku
masih mampu menjalani hidupku sendiri meskipun aku terus mengingatmu
berkali-kali. Semua memang tak mudah, Tuan, aku mulai merangkak dan
berjalan sendiri. Aku mencari duniaku lagi, membangun semua dari awal
lagi, dan membiasakan diri untuk melangkah tanpa bisikan semangat
darimu. Dan, selama delapan hari ini, aku bisa melewati itu semua.
Bali cukup menolongku, suasana di sana cukup meneduhkan bagi aku yang
sedang remuk. Mungkin, sampai sekarang kamu tak akan tahu bagaimana
hancurnya aku, bagaimana aku berjuang mati-matian untuk mengembalikan
diriku yang sempat kaucuri. Mungkin, kamu juga tak peduli bagaimana aku
mengobati lukaku sendirian. Tentu di sana, kamu tengah berbahagia dengan
serial anime terbaru yang kautunggu-tunggu, kamu tak mungkin peduli
dengan perempuan yang pernah menghabiskan waktunya bersamamu. Pria
sepertimu tak akan pernah paham arti sakit hati yang sesungguhnya.
Maafkan kebodohanku karena pernah sempat beberapa kali menghubungimu.
Dan, telepon serta pesan singkatku memang tidak kaugubris, sesuai dengan
perkiraanku. Itu sudah cukup jadi bukti, kamu tak ingin tahu lagi
kabarku dan keadaanku. Ya, malam itu, aku berpikir untuk segera
menghapus semua nomormu, yang dalam artian luas adalah memutuskan untuk
melupakanmu. Malam itu, langit Uluwatu jadi saksi, bahwa aku siap
membasuh darahku sendiri dan memaafkan kamu yang menggoreskan jemari
tajammu di hatiku.
Beberapa hari ini aku juga tak melanjutkan menulis kisah-kisah
tentangmu. Tidak menulis cerita lima hari tanpamu, enam hari tanpamu,
tujuh hari tanpamu; karena kurasa luka itu tak perlu dihitung-hitung dan
ratapanku tentangmu tak perlu lagi aku umbar-umbar meskipun kalau boleh
jujur-- aku sangat tersiksa. Kamu tak akan tahu sakitnya ditinggalkan
saat sedang cinta-cintanya, mungkin sosok keras kepala sepertimu hanya
akan mempercayai apa yang kaupikir benar dan kaupikir aku tak pernah
terluka karena sikapmu. Kamu salah besar, lukaku sudah cukup dalam, dan
luka ini akan jadi tabungan karmamu. Kamu tinggal menunggu waktu, saat
ada seorang wanita lain memberimu sakit hati yang sama, seperti kamu
dengan mudahnya membuangku seperti sampah.
Aku cukup berada di sini. Jadi penonton dari jauh dan tinggal menunggu
waktu, siapa yang akhirnya tertawa lebih lepas dan lebih keras. Aku
tidak akan mengotori tanganku dengan melakukan balas dendam, karena aku
tahu balasan dari Tuhan akan jauh lebih menyadarkanmu kelak. Air mataku
cukup sampai di sini, tangisku harus reda sekarang, dan izinkan aku
memulai hidupku yang baru tanpa jeratan darimu.
Tiga bulan ini, kamu mengurungku dalam hubungan yang aku pikir cinta.
Kamu sangat tahu bahwa aku bisa sangat baik pada pria yang aku cintai,
lalu kamu memanfaatkan semua agar aku bisa jadi bonekamu yang paling
setia. Kamu lakukan apapun yang diinginkan wanita, agar aku merasa kamu
pun juga turut jatuh cinta. Aku membuka mata dan pada akhirnya aku tahu
semua palsu semata.
Sekarang, kamu tidak menyesali kepergianku, tapi bisa aku jamin beberapa
bulan kemudian, kamu adalah orang yang merasa paling menyesal karena
melepaskanku begitu saja. Ingatlah satu hal ini, apa yang kauperbuat
menjadi apa yang kautuai. Jika kautelah menyakitiku, tentu suatu saat
kamu juga akan menuai rasa sakit yang sama. Tuan, mungkin saat itu kamu
baru menyadari, betapa meninggalkanku adalah kebodohan yang harusnya tak
kamu lakukan.
Biarkanlah kamu pergi tanpa penjelasan, aku juga tak butuh lagi
penjelasan darimu. Kalaupun kauingin menjelaskan semua, aku yakin hanya
kebohongan-kebohongan lain yang akan kamu ucapkan padaku. Pergilah
dengan perasaan pengecut, Tuan, selamanya aku akan mengingatmu sebagai
pria tak tahu diri yang hanya bisa mengemis tanpa mau berusaha. Dan
sekuat mungkin aku berdoa, anak-anakku kelak tidak akan pernah bertemu
dengan yang brengsek-brengsek sepertimu.
Terima kasih untuk 4 tahun yang berkesan, menyenangkan, sekaligus
menciptakan ketakutan. Terima kasih untuk peluk dan kenangan yang sempat
membuatku percaya bahwa ini semua cinta sejati. Terima kasih pernah
membuatku tertawa walau sesaat. Terima kasih untuk segala hal yang bisa
membuatku cukup bahagia.
Aku marah, tidak mungkin jika manusia tidak marah jika ditinggalkan
begitu saja. Tapi, percayalah, aku akan selalu mengingatmu sebagai bahan
pembelajaran bahwa aku tak akan melakukan kesalahan yang sama. Aku
percaya, patah hati seperti ini akan sembuh dengan cepat, lalu aku akan
menulis novel baru, kemudian sakitku terobati. Patah hati kali ini
tentunya akan seperti patah hati yang lainnya, aku akan sembuh dengan
sendirinya.
dariaku yang selalu mendoakanmu
Sebagai gadis yang pernah dan masih mencintaimu, aku juga ingin tahu kabarmu. Bagaimana kabarmu sekarang?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar